Para praktisi dibidang komputer, baik software maupun hardware
tiba-tiba diberi tanggung jawab dan kekuasaan yang sangat besar. Tidak
seperti jaman dulu, data diketik atau ditulis lalu disimpan dalam bentuk
"fisik".
Sekarang berbagai data penting disimpan didalam komputer karena itulah saya katakan "tiba-tiba diberi tanggung jawab dan kekuasaan yang sangat besar". Mereka menguasai pengelolaan sistem informasi beserta data didalamnya. Mulai timbul ketakutan bahwa pengelola database bisa melihat data didalam database dan kemudian memanfaatkannya untuk kepentingan pribadi. Apalagi jika data di dalam database tersebut memiliki nilai finansial.
Diluar perusahaan, muncul juga jagoan komputer yang bergabung ke sisi hitam dari dunia komputer. Mereka adalah setan komputer yang merasa memiliki hak untuk menjajal atau memasuki sistem komputer milik orang lain.
Masalah utamanya adalah para ahli komputer ini umumnya tidak pernah diajari agama ketika mereka belajar. Apa mungkin karena perguruan tinggi atau sekolah mereka memang tidak mengajarkan agama ? Hal lain yang tidak membantu adalah mereka melihat senior –senior mereka yang juga tidak belajar agama. Hasilnya adalah para pakar dan ahli komputer yang tidak beragama (agama hanya di KTP mereka). Perlu ditekankan bahwa profesionalisme (dibidang ini atau mungkin disemua bidang ?) adalah bukan bukti sebuah kemampuan dalam bentuk sertifikasi teknis atau pamer kemampuan …….. akan tetapi lebih kearah sikap !
Pemerintah pun dalam hal ini bertanggung jawab, karena gagal menyediakan tempat yang layak untuk mereka. Banyak praktisi komputer handal kesulitan untuk mendapatkan penghidupan yang layak bahkan banyak diantara mereka penganguran, laluuu …… mereka membuat virus, mendeface situs, membobol, phising, carding, cracking dll dll
Pihak yang dirugikan dari situasi ini adalah para pengguna komputer, termasuk masyarakat umum yang menggunakan jasa yang diberikan dengan menggunakan komputer. Namun, (anehnya) para pengguna seakan-akan mau menerima kondisi ini. Yang paling umum adalah mereka nyaris setiap bulan harus "memperbaiki ulang" komputer mereka yang terkena virus (ini diluar permasalahan mereka sendiri yang nakal dan suka mengunjungi "tempat-tempat terlarang" di internet).
Saya sendiri dulunya memberikan layanan gratis ke para pelanggan jika komputer mereka terkena virus, tapi virus makin hari makin banyak dan saya keteter lalu terpaksa mamasang tarif untuk manangani virus dan terkadang saya rekomendasikan fihak ketiga yang spesialisasinya dibidang "anti virus". Perlu diketahui, yang paling menyebalkan disini adalah "virus lokal", karena dia buatan anak bangsa (pake "t" ?) maka kebanyakan anti virus seperti norton dll dll tidak mendeteksi virus-virus lokal ini.
Satu sisi saya memang mendapatkan "rejeki tambahan" karena ulah para "jagoan" ini, tapi apakah ini yang harus ditelan para pengguna komputer ? Saya mengusulkan untuk materi agama benar-benar ditambahkan porsinya disegala bidang pendidikan. Mungkin ini bukan pendekatan yang populer, tapi nampaknya harus kita lakukan. Sebuah usaha yang tidak mudah.
Sekarang berbagai data penting disimpan didalam komputer karena itulah saya katakan "tiba-tiba diberi tanggung jawab dan kekuasaan yang sangat besar". Mereka menguasai pengelolaan sistem informasi beserta data didalamnya. Mulai timbul ketakutan bahwa pengelola database bisa melihat data didalam database dan kemudian memanfaatkannya untuk kepentingan pribadi. Apalagi jika data di dalam database tersebut memiliki nilai finansial.
Diluar perusahaan, muncul juga jagoan komputer yang bergabung ke sisi hitam dari dunia komputer. Mereka adalah setan komputer yang merasa memiliki hak untuk menjajal atau memasuki sistem komputer milik orang lain.
Masalah utamanya adalah para ahli komputer ini umumnya tidak pernah diajari agama ketika mereka belajar. Apa mungkin karena perguruan tinggi atau sekolah mereka memang tidak mengajarkan agama ? Hal lain yang tidak membantu adalah mereka melihat senior –senior mereka yang juga tidak belajar agama. Hasilnya adalah para pakar dan ahli komputer yang tidak beragama (agama hanya di KTP mereka). Perlu ditekankan bahwa profesionalisme (dibidang ini atau mungkin disemua bidang ?) adalah bukan bukti sebuah kemampuan dalam bentuk sertifikasi teknis atau pamer kemampuan …….. akan tetapi lebih kearah sikap !
Pemerintah pun dalam hal ini bertanggung jawab, karena gagal menyediakan tempat yang layak untuk mereka. Banyak praktisi komputer handal kesulitan untuk mendapatkan penghidupan yang layak bahkan banyak diantara mereka penganguran, laluuu …… mereka membuat virus, mendeface situs, membobol, phising, carding, cracking dll dll
Pihak yang dirugikan dari situasi ini adalah para pengguna komputer, termasuk masyarakat umum yang menggunakan jasa yang diberikan dengan menggunakan komputer. Namun, (anehnya) para pengguna seakan-akan mau menerima kondisi ini. Yang paling umum adalah mereka nyaris setiap bulan harus "memperbaiki ulang" komputer mereka yang terkena virus (ini diluar permasalahan mereka sendiri yang nakal dan suka mengunjungi "tempat-tempat terlarang" di internet).
Saya sendiri dulunya memberikan layanan gratis ke para pelanggan jika komputer mereka terkena virus, tapi virus makin hari makin banyak dan saya keteter lalu terpaksa mamasang tarif untuk manangani virus dan terkadang saya rekomendasikan fihak ketiga yang spesialisasinya dibidang "anti virus". Perlu diketahui, yang paling menyebalkan disini adalah "virus lokal", karena dia buatan anak bangsa (pake "t" ?) maka kebanyakan anti virus seperti norton dll dll tidak mendeteksi virus-virus lokal ini.
Satu sisi saya memang mendapatkan "rejeki tambahan" karena ulah para "jagoan" ini, tapi apakah ini yang harus ditelan para pengguna komputer ? Saya mengusulkan untuk materi agama benar-benar ditambahkan porsinya disegala bidang pendidikan. Mungkin ini bukan pendekatan yang populer, tapi nampaknya harus kita lakukan. Sebuah usaha yang tidak mudah.



0 komentar:
Posting Komentar